"Dari Visi Anak Pasar hingga Mengabdi untuk UPI: Jejak Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. E. Aminuddin Aziz"

Tidak banyak orang yang menyangka perjalanan hidupnya akan sejauh ini. Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. mengaku dengan jujur: ketika pertama kali mendaftar sebagai mahasiswa Diploma 2 IKIP Bandung pada 1986, cita-citanya sederhana “lulus”, pulang kampung, dan menjadi guru SMP. Tidak ada bayangan sama sekali bahwa ia kelak akan menghabiskan hampir seluruh hidupnya membesarkan sebuah universitas, hingga akhirnya dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris.

Dalam sesi penelusuran arsip tokoh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. membuka banyak lembaran kisah yang belum sempat ia tuliskan dalam bukunya, “Anak Pasar” mulai dari guru-guru yang membentuk pola pikirnya, keputusan-keputusan sulit yang pernah ditentangnya, hingga rahasia di balik lahirnya slogan "Leading and Outstanding" yang kini melekat pada UPI.

Buku Anak Pasar memang sengaja diakhiri pada satu titik tertentu. Bukan karena kisahnya sudah habis, melainkan karena Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. ingin menjaga jarak dari bias. "Saya menulis ini dengan perspektif saya sebagai mahasiswa," katanya. Episode-episode lain, terutama pengalaman selama menjabat sebagai Duta Besar sengaja ia simpan untuk edisi revisi atau buku baru, agar ceritanya tidak terdengar seperti pembelaan diri dari seseorang yang masih menjabat.

Perjalanan akademiknya berubah arah setelah ia dipromosikan bertahap: dari D2 ke D3, lalu S1, hingga akhirnya ditarik menjadi asisten dosen. Di sanalah ia mulai menyadari, jalan hidupnya bukan menjadi guru SMP, melainkan akademisi.

Tiga nama disebutnya sebagai arsitek pola pikirnya:

  • Pak Haidar Al-Wasilah , yang selalu menuntut segala sesuatu bahkan lelucon soal makan siang harus "ilmiah". Kedekatan mereka begitu erat hingga Pak Haidar-lah yang memberikan khutbah nikah Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D.
  • Prof. Fuad Abdul Hamid , yang mengajarkan pentingnya membangun jejaring seluas-luasnya, membuka pintu perkenalan dengan banyak pihak di dalam maupun luar kampus.
  • Ibu Laila Hanum Hashim , sosok disiplin yang memulai kelas lebih pagi dari jadwal dan mengunci pintu bagi yang terlambat.

"Ketiganya berbeda cara mendidik, tapi sama-sama membentuk cara saya berpikir dan bekerja," kenangnya.

Jika ditanya perubahan paling besar dalam hidupnya, jawabannya jelas: transformasi IKIP Bandung menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Ia masih ingat betul kalimat mendiang seniornya, Prof. Deddy Supriyadi, dalam sebuah rapat: perubahan status ini adalah soal now or never, kalau tidak diambil sekarang, kesempatan itu tidak akan datang lagi.

Perdebatan paling sengit waktu itu adalah soal jati diri. Bagaimana caranya tetap menjadi lembaga kependidikan, sementara nama "universitas" menuntut cakupan yang jauh lebih luas? Dari perdebatan itu lahir tiga jargon yang menjadi napas UPI: pendidikan disiplin ilmu, disiplin ilmu pendidikan, dan pendidikan disiplin ilmu lainnya. UPI pun menjadi satu-satunya eks-IKIP yang tetap mempertahankan kata "pendidikan" dalam namanya, berbeda dari IKIP-IKIP lain yang berganti nama menjadi nama kota.

Rekan-rekannya dulu menjulukinya Man of Change, manusia yang tidak bisa diam. Baginya, perubahan adalah keniscayaan yang cepat atau lambat harus dihadapi. Sejumlah gebrakan lahir dari filosofi ini selama ia menjabat sebagai Direktur Perencanaan hingga Wakil Rektor:

  • Sistem perencanaan berbasis program prioritas (yang belakangan dikenal dengan istilah cascading), meski awalnya ia bahkan tidak tahu nama istilah tersebut.
  • Skema penelitian payung yang mengelompokkan riset dosen ke arah yang lebih terarah.
  • Sistem pelaporan digital terpadu , menggantikan cara kerja lama yang serba manual dan mudah tercecer.
  • Integrasi sistem akademik dan perbankan , menyelesaikan persoalan cuti dan drop-out mahasiswa yang sempat menahun.
  • Aturan tegas: dosen wajib memasukkan nilai maksimal dua minggu setelah ujian akhir semester; jika tidak, nilai otomatis A. Kebijakan ini sempat memicu protes keras, tapi menurutnya, "ini bukan soal aturan administratif, ini hak mahasiswa yang wajib dilindungi."

Hampir semua gagasan ini awalnya ditolak. Namun, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. punya resep sendiri agar sebuah ide bisa diterima: pastikan semua orang memahami persoalannya, yakinkan bahwa isu itu penting, lalu sosialisasikan dengan sabar kepada yang terdampak.

Tidak banyak yang tahu, gagasan visi UPI Leading and Outstanding atau lebih dikenal dengan "Lekor dan Unggul" lahir dari mulut Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. sendiri. Idenya terlontar begitu saja dalam sebuah rapat pimpinan universitas, terinspirasi dari ungkapan local roots, global flowers: berakar kuat secara lokal, namun mekar hingga ke kancah global. Sempat dipertanyakan oleh salah satu Wakil Rektor saat itu, gagasan ini akhirnya diterima dan bertahan sebagai identitas UPI hingga hari ini.

Sudah sepuluh tahun Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. tidak menginjakkan kaki di kampus sejak bertugas sebagai Duta Besar di London pada 2016. Ia sadar bahwa banyak generasi muda UPI kini mungkin tidak mengenalnya sama sekali. Namun ada satu pesan yang ingin ia titipkan: "UPI ini lembaga besar, punya tanggung jawab besar. Maka kita harus berpikir besar dilandasi kejujuran, kedisiplinan, dan kerja keras. Setelah itu semua ada, barulah kerja sama. Karena tidak ada pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian."

Di ujung wawancara, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. menyampaikan rasa terima kasihnya kepada UPI, lembaga yang memberinya ruang untuk berekspresi sejak ia masih menjadi "mahasiswa nakal yang terlalu kritis", hingga masa pengabdiannya di birokrasi kampus dan penugasan di luar negeri. Di manapun ia bertugas, ia selalu menyebut dirinya sebagai bagian dari UPI caranya menjaga kejayaan almamater di tengah tanggung jawabnya kepada bangsa. (SM)

Kembali