Dari Asisten Dosen hingga Arsitek Perubahan: Perjalanan Panjang Prof. Dr. Utari Sumarmo di Dunia Pendidikan Indonesia
Bandung, 23 April 2026
Namanya tercatat dalam ijazah sebagai Raden Roro Oetari, namun dunia pendidikan mengenalnya sebagai Prof. Dr. Utari Sumarmo. Sosok yang menapaki karier dari mahasiswa aktif hingga menjadi salah satu tokoh kunci transformasi IKIP Bandung menjadi Universitas Pendidikan Indonesia.
Perjalanan akademik Prof. Dr. Utari Sumarmo bermula dari sesuatu yang sederhana: ketekunan dan keaktifan semasa kuliah di IKIP Bandung. Kala itu Prof. Rus Effendi, sosok dosen berpengaruh di lingkungan kampus langsung merekrutnya sebagai calon staf setelah melihat potensinya. Dari posisi asisten perguruan tinggi, ia menapaki tangga jabatan struktural satu per satu: Sekretaris Jurusan, Ketua Jurusan, Dekan dua periode, Ketua Program Studi Pascasarjana, hingga Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Penelitian.
"Karakter mengajar tidak kalah penting dari penguasaan materi." ( Prof. Dr. Utari Sumarmo, dalam evaluasi pelatihan Tim Basic Science di ITB)
Keterlibatan Prof. Dr. Utari Sumarmo tak terbatas pada kampus. Ia tergabung dalam Tim Basic Science, program kolaborasi pemerintah bersama ITB dan IKIP Bandung untuk meningkatkan kualitas dosen MIPA di seluruh Indonesia. Tugasnya meliputi seleksi calon peserta program S2/S3, pemantauan pelatihan di UI, UGM, dan ITB, hingga perjalanan ke Aceh, Medan, dan hampir seluruh pelosok negeri. Di ITB, masukannya berbasis data soal pentingnya gaya mengajar mendorong dosen-dosen di sana mengubah pendekatan mereka di kelas.
Ketika seluruh IKIP di Indonesia didorong bertransformasi menjadi universitas umum, sivitas akademika IKIP Bandung mengambil langkah yang tidak biasa. Mereka memilih identitas yang tegas: menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan pendidikan sebagai inti yang tercermin dari nama universitas hingga nama seluruh fakultasnya.
Di antara sekian pencapaian, keberhasilan mendapatkan gedung dari Japan International Cooperation Agency (JICA) menjadi yang paling berkesan bagi Prof. Utari. Kunci keberhasilan proposal IKIP Bandung terletak pada satu perbedaan mendasar: membedakan antara apa yang diinginkan dan apa yang benar-benar dibutuhkan . Setiap permintaan peralatan dikaitkan secara langsung dengan kurikulum dan kegiatan praktikum yang konkret. Proses pembangunan pun melibatkan semua lapisan civitas akademika (dari pimpinan hingga pesuruh) dalam rapat mingguan bersama tim JICA.
Setelah pensiun dari UPI, Prof. Dr. Utari Sumarmo bergabung dengan IKIP Siliwangi untuk mendirikan Program Studi S2 Pendidikan Matematika. Ia terus berkolaborasi dan menghasilkan karya ilmiah bersama rekan-rekan dosen. Seluruh artikel dan makalahnya yang tersebar di berbagai jurnal dan seminar pun telah dikumpulkan dan diterbitkan dalam satu buku, atas inisiatif dan biaya swadaya dari rekan-rekan Prodi Matematika sebagai penghargaan atas kontribusinya.
Satu harapan yang ia titipkan: agar UPI menjadi yang terdepan di Indonesia dalam bidang pendidikan, dan agar seluruh arsip institusi segera didigitalisasi demi kemudahan akses bagi generasi mendatang. (SM)