“Ide Itu Punya Sayap”: Mengenang Alm. Prof. A. Chaedar Alwasilah, Ph.D., M.A. Melalui Lisan Sang Istri

Wawancara sejarah lisan bersama Dr. Hj. Senny Suzanna Alwasilah menghadirkan sosok akademisi berdedikasi yang bahkan di ujung hayatnya tak berhenti menulis.

Universitas Pasundan (UNPAS) menjadi saksi sebuah sesi wawancara pada tanggal 2 Juni 2026, ketika Dr. Hj. Senny Suzanna Alwasilah, S.S., M.Pd. dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus istri dari alm. Prof. A. Chaedar Alwiah, Ph.D., M.A. hadir untuk berbagi kenangan tentang sosok suaminya kepada Tim Pengelolaan dan Pelestarian Arsip. Kegiatan ini dikoordinatori oleh Dr. Yudi Kusumah, M.Pd., dengan Agun Gunawan, S.T. sebagai pewawancara.

Bagi Senny, mengenang Prof. A. Chaedar bukan sekadar mengingat seorang profesor. Ia mengingat seorang suami yang penuh kasih, seorang ayah yang humoris, dan seorang intelektual yang tidak pernah berhenti belajar, bahkan ketika tubuhnya sedang sakit.

             “Ide itu punya sayap, bisa terbang dan hilang kapan saja.” Tutur Dr. Senny.

Salah satu kebiasaan paling khas Prof. A. Chaedar, menurut Senny, adalah kebiasaannya segera menuliskan ide begitu muncul. Ia tidak pernah menunda gagasan, meyakini bahwa setiap pikiran yang tidak segera dicatat akan hilang begitu saja. Keyakinan itu pula yang kelak mengantarkan pria asal Kampung Ciarok, Malangbong, Garut itu menjadi salah satu akademisi paling produktif di lingkungan UPI.

Lahir dari keluarga sederhana, ayahnya seorang kepala sekolah sekaligus kiai, Prof. A. Chaedar tumbuh di lingkungan pesantren yang kental dengan ilmu agama. Namun cita-citanya melesat jauh: setelah lulus SMA Negeri Cicalengka, ia mendaftar ke IKIP Bandung (kini UPI) atas saran sang ayah, dan memilih Jurusan Bahasa Inggris dengan alasan yang terasa sederhana namun visioner.

         "Dengan menguasai Bahasa Inggris, saya bisa membaca buku apa pun dan mempelajari ilmu                  apa pun." -Prof. A. Chaedar

Perjalanan akademiknya membawa Prof. A. Chaedar — bersama Senny yang dinikahinya pada 1987 — ke Indiana University Bloomington, Amerika Serikat, untuk menempuh program doktor. Di sana, kedisiplinannya menjadi legenda tersendiri: berangkat ke kampus pukul 07.00 pagi, pulang sekitar tengah malam, dan rumah hanya disinggahi untuk makan dan tidur. Tekad yang ia nyatakan sejak awal kepada Senny tidak pernah goyah:

          "Saya di sini mau belajar. Saya harus selesai tepat waktu. Saya tidak mau pulang membawa                     malu." - Prof. A. Chaedar Alwiah, Ph.D., M.A.

Ketekunan itu berbuah: ia menyelesaikan studi S3 tepat waktu, bahkan sebelum S2 selesai pun sudah lebih dulu memburu beasiswa untuk jenjang berikutnya — sebuah strategi agar momentum belajarnya tidak terputus.

Karya-karya Prof. A. Chaedar:

  • Pokoknya Menulis
  • Pokoknya Kualitatif
  • Pokoknya Sunda
  • Pokoknya Literasi
  • Pokoknya Action Research
  • Pokoknya BHMN
  • Pokoknya Studi Kasus (karya terakhir)

Namun momen paling menyentuh dalam kesaksian Senny adalah tentang buku terakhir sang suami, Pokoknya Studi Kasus. Saat itu Prof. A. Chaedar sempat koma selama lima hari, para dokter sudah tidak berharap banyak. Ia bangkit, dan selama empat bulan setelahnya, di sela-sela cuci darah dua kali seminggu, ia tetap berjuang menyelesaikan buku itu: mendiktekan kata-kata, membaca naskah, tampak seperti seseorang yang tahu waktunya tidak banyak.

       "Di tengah rasa sakit dan jarum-jarum yang selalu menusuk, beliau masih memikirkan untuk                    membuat satu karya lagi." Tutur Senny.

Buku itu selesai dan diserahkan ke penerbit. Namun Prof. A. Chaedar wafat sebelum sempat menyaksikan karyanya terbit. Peluncuran Pokoknya Studi Kasus akhirnya digelar di Pascasarjana UPI, sekaligus sebagai peringatan 100 hari kepergiannya — tanpa kehadiran sang penulis.

Di rumah, ia adalah sosok yang berbeda dari kesan "galak" di kelas: penyayang, tak pernah marah di depan umum, dan humoris dengan cerita-cerita khas kampung yang kerap membuat Senny tertawa. Kepada anak-anaknya ia menitipkan satu pesan yang tidak pernah berubah, bahwa warisan terbaik bukan harta, melainkan pendidikan: "Anak yang berpendidikan tinggi tidak akan merecoki warisan — mereka mandiri karena punya ilmu yang tak bisa diambil siapapun." (SM)

Kembali