Kolega Ungkap Gaya Kepemimpinan Humanis Prof. Dr. Utari Sumarmo dalam Sesi Wawancara Sejarah Lisan
Bandung, 23 April 2026
Dr. Harry Firman, mantan pembantu dekan yang pernah bertugas di bawah kepemimpinan Ibu Utari, berbagi kesaksian mendalam tentang figur pemimpin yang menempatkan nilai kolaborasi di atas segalanya.
Sebuah sesi wawancara sejarah lisan telah berhasil merekam testimoni berharga dari Dr. Harry Firman, seorang akademisi yang pernah menjabat sebagai pembantu dekan bidang akademik kala Ibu Utari memimpin sebagai dekan selama dua periode atau sekitar enam tahun. Kesaksiannya menghadirkan gambaran yang utuh tentang sosok pemimpin yang meninggalkan jejak mendalam di institusinya.
Beliau bukan tipe pemimpin yang bergaya bos. Setiap masalah diselesaikan bersama-sama, dalam koridor aturan yang berlaku." ( Dr. Harry Firman )
Dalam wawancara tersebut, Dr. Harry Firman menegaskan bahwa Ibu Utari mampu menjalankan seluruh tugas dosen secara komprehensif — mulai dari pengajaran, riset, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan kelembagaan. "Tidak semua dosen mampu atau bersedia melakukannya sekaligus," ujar Dr. Harry Firman, yang kemudian melanjutkan tongkat kepemimpinan sebagai dekan selama satu periode.
Gaya kepemimpinan Ibu Utari disebut sebagai humanist leader: tidak otoriter, terbuka terhadap diskusi, dan selalu mengutamakan suara seluruh staf dalam setiap pengambilan keputusan. Pendekatan partisipatif ini terbukti mendorong produktivitas dan memelihara motivasi kerja tim secara berkelanjutan.
Di luar urusan kelembagaan, Ibu Utari dikenal aktif menjaga hubungan kekeluargaan dengan para koleganya. Beliau kerap mengundang rekan kerja beserta keluarga ke rumahnya dan turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial informal seperti arisan. Kedekatan personal ini, menurut Dr. Harry Firman, menjadi perekat yang memperkuat solidaritas tim.
Tidak kalah mengesankan adalah dedikasi Ibu Utari terhadap pengembangan institusi. Beliau secara rutin menghadiri pertemuan di ITB serta kegiatan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ( LPTK ) se-Indonesia, bahkan di masa ketika tunjangan untuk kegiatan tersebut belum tersedia. Sebuah bukti nyata komitmen yang melampaui kalkulasi kepentingan pribadi. (SM)