Mengenal Sosok Pemimpin Penuh Integritas: Wawancara Sejarah Lisan Bersama Prof. Dr. Sri Rezeki tentang Kepemimpinan Prof. Dr. Utari Sumarmo

Bandung, 23 April 2026- 

Sebuah wawancara sejarah lisan diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pendokumentasian perjalanan institusi dan rekam jejak para pemimpinnya. Dalam sesi tersebut, Prof. Dr. Sri Rezeki berbagi kenangan dan kesan mendalam tentang sosok Prof. Dr. Utari Sumarmo, mantan Dekan yang dikenalnya sejak lama dan meninggalkan pengaruh besar dalam perjalanan kariernya.

Hubungan antara Prof. Dr. Sri Rezeki dan Prof. Dr. Utari Sumarmo bermula pada era kepemimpinan Pak Hendra sebagai Dekan, di mana keduanya sama-sama mengemban tugas sebagai sekretaris. Perkenalan yang lahir dari kesetaraan posisi itu pun tumbuh menjadi hubungan profesional yang erat dan saling menghormati.

Prof. Dr. Sri Rezeki kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua Jurusan selama dua periode. Satu periode berlangsung di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Utari Sumarmo sebagai Dekan, dan satu periode lagi di bawah kepemimpinan Pak Harry. Pengalaman bekerja langsung di bawah Ibu Utari menjadi salah satu babak paling berkesan dalam perjalanan kariernya.

Prof. Dr. Sri Rezeki melukiskan Prof. Dr. Utari Sumarmo sebagai sosok yang serius dan berdisiplin tinggi, namun tidak pernah kehilangan kehangatan dan kepeduliannya sebagai manusia. Salah satu hal yang paling berkesan, menurutnya, adalah cara Prof. Dr. Utari Sumarmo menghapus jarak antara atasan dan bawahan.

“Hubungan kami terasa setara dan personal. Beliau tidak menempatkan diri sebagai atasan yang harus disegani dari jauh,” ujar Prof. Dr. Sri Rezeki.

Kedekatan personal itu bahkan terwujud dalam gestur-gestur kecil yang bermakna besar. Ibu Utari pernah secara spontan memberikan kain batik kepada Prof. Dr. Sri Rezeki — sebuah tindakan sederhana yang mencerminkan ketulusan dan keakraban yang melampaui hubungan struktural formal.

Di antara sekian banyak kenangan, satu momen yang paling membekas bagi Prof. Dr. Sri Rezeki adalah peran langsung Prof. Dr. Utari Sumarmo dalam prosesnya meraih gelar Guru Besar. Di tengah kesibukan administratif yang menyita hampir seluruh waktu dan energinya, justru Prof. Dr. Utari Sumarmolah yang tampil sebagai pendorong nyata.

Tanpa diminta, Prof. Dr. Utari Sumarmo berinisiatif mengantarkan formulir ke Dekan untuk ditandatangani. Sebuah langkah kecil yang lahir dari kepedulian tulus — dan menjadi penentu besar dalam karier akademik Prof. Dr. Sri Rezeki. “Saya akui, saya bisa sampai di titik ini salah satunya berkat dorongan beliau,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Melalui cara kepemimpinan dan keteladanan hidupnya, Prof. Dr. Utari Sumarmo mewariskan sejumlah nilai yang terus diingat dan dirasakan pengaruhnya oleh Prof. Dr. Sri Rezeki yaitu Kejujuran (selalu menjadi landasan dalam setiap interaksi dan pengambilan keputusan), Usaha maksimal (Prof. Dr. Utari Sumarmo selalu mendorong orang-orang di sekitarnya untuk memberikan yang terbaik dalam mencapai setiap tujuan), Pantang berputus asa (dibuktikan dari pengalaman pribadinya saat menjalani program studi sandwich di luar negeri. Selama enam bulan, Prof. Dr. Utari Sumarmo menghadapi rasa rindu yang berat kepada anak-anaknya hingga berurai air mata, namun beliau tetap bertahan dan menyelesaikan studinya hingga tuntas), Tidak ada yang instan (setiap pencapaian adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan yang sungguh-sungguh).

Mengakhiri sesi wawancara, Prof. Dr. Sri Rezeki menyampaikan refleksinya tentang mahasiswa zaman sekarang. Ia mengamati kecenderungan generasi muda saat ini yang lebih menginginkan kemudahan dan mudah menyerah ketika menghadapi rintangan.

“Dulu, mencari pembimbing itu susah sekali. Sekarang justru dosennya yang menunggu mahasiswa. Tapi ironisnya, mahasiswanya yang malah tidak datang,” tuturnya dengan nada prihatin.

Bagi Prof. Dr. Sri Rezeki, keteladanan Prof. Dr. Utari Sumarmo berjuang tanpa iming-iming, dengan keikhlasan dan integritas penuh adalah warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Kisah perjuangan tanpa sorotan lampu, namun penuh makna. (SM)

Kembali