Mengenang Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, Pemimpin yang Berpikir dengan Data, Bekerja dengan Hati

Bandung, 20 Juli 2026. Sosok Almarhum Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. dikenang lewat kegiatan wawancara sejarah lisan yang digelar oleh Unit Pengelolaan dan Pelestarian Arsip Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kegiatan ini disambutan hangat oleh Dr. Rasto, M.Pd. selaku Kepala Arsip Universitas dan dikoordinasikan oleh Dr. Yudi Kusumah, M.Pd. ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ahman, M.Pd. yang merupakan mantan mahasiswa yang kemudian menjadi kolega dekat almarhum. dan Agun Gunawan, S.T. sebagai pewawancara.

Kisah kedekatan mereka dimulai pada 1978, ketika narasumber baru memasuki Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) UPI. Saat itu, Alm. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. sudah mengajar meski belum menyelesaikan studi S2-nya. Kedisiplinan akademik dan pendekatan berbasis data yang beliau tunjukkan membuatnya cepat menjadi sosok idola di kalangan mahasiswa. Kesamaan minat di bidang statistik lantas mempererat hubungan keduanya. Alm. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. bahkan turut membimbing skripsi S1 narasumber.

Relasi keduanya terus berkembang melintasi berbagai peran: sebagai dosen dan mahasiswa, sebagai Wakil Rektor dan sekretaris lembaga penelitian, hingga sesama pengurus organisasi profesi. Narasumber mengungkapkan bahwa keistimewaan Alm. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. terletak pada kemampuannya menyesuaikan diri dengan konteks tegas dan berwibawa sebagai atasan di kampus, namun egaliter dan membumi sebagai kolega di forum organisasi seperti Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI), yang kini menjadi ABKIN. Justru di organisasi inilah karier kepemimpinan nasional Alm. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. dimulai saat terpilih sebagai Ketua Umum dengan narasumber sebagai Sekretaris Jenderalnya.

Filosofi hidup almarhum: jenjang karier tak ditentukan oleh posisi struktural, melainkan oleh kinerja nyata dan kemampuan menjalin hubungan tanpa konflik. Meski memegang jabatan tertinggi di kampus, beliau tetap konsisten mengajar dan meneliti yang memegang penuh amanah Tridharma Perguruan Tinggi.

Di balik segala pencapaiannya, narasumber mengenang Alm. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. sebagai pribadi yang sederhana dan tenang. Beliau rajin salat Subuh berjamaah, selalu mandi dengan air dingin lebih dulu sebelum berangkat. Kebiasaan kecil yang justru menjadi kenangan paling khas. Di kelas, beliau serius namun tak pernah membuat suasana tegang, dengan pendekatan humanistik ala bimbingan konseling. Bahkan, narasumber mengaku tak pernah sekali pun melihatnya marah, selalu tersenyum, dan menghadapi kesalahan bawahan dengan pendekatan berbasis aturan, bukan hukuman. (SM)

Kembali