Menggali Warisan Prof. Idrus Affandi: Kisah Seorang Guru yang Mendidik dengan Hati

Prof. Dr. H. Karim Suryadi berbagi kenangan mendalam tentang sosok pendidik sejati dalam sesi wawancara sejarah lisan di Kampus UPI Cibiru.

BANDUNG — Kenangan tidak selalu bisa dituangkan dalam angka atau data. Kadang, ia hidup dalam cerita — dalam kisah seorang murid yang mengingat gurunya bukan dari deretan gelar atau jabatan, melainkan dari hangat pelukannya di momen paling sunyi. Itulah yang tersaji dalam sesi wawancara sejarah lisan yang dilaksanakan pada Senin, 8 Juni 2026, di Kampus UPI Cibiru. Kegiatan yang dikoordinasi oleh Dr. Yudi Kusumah, M.Pd. selaku Kepala Seksi Pengelolaan dan Pelestarian Arsip ini menghadirkan Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si. sebagai narasumber utama. Dengan pewawancara Agun Gunawan, S.T., dan didampingi Tim Pengelolaan dan Pelestarian Arsip UPI, Prof. Karim berbagi kisah tentang sosok yang ia kenang sebagai guru, pembimbing, sekaligus sahabat — almarhum Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H.

Kedekatan antara keduanya tidak berhenti di koridor kampus. Prof. Karim mengisahkan bahwa Pak Idus pernah berkunjung ke rumahnya dan berkenalan langsung dengan kedua orang tuanya. Bahkan, ketika Prof. Karim melamar sang istri, Tusti, Pak Idus hadir sebagai juru bicara yang menyampaikan maksud lamaran tersebut. Kedekatan itu pun menjalar ke keluarga Pak Idus. Prof. Karim akrab dengan anak-anaknya — Pak Rul, Rati, dan Dewi. Menariknya, Rati dan Pak Rul kemudian memilih jurusan Ilmu Komunikasi, yang oleh Prof. Karim disebut sebagai "efek" dari perjalanan akademisnya sendiri.

Nilai yang paling kuat diingat Prof. Karim dari gurunya adalah konsistensi — antara ucapan dan tindakan. Pak Idus dikenal disiplin dalam menjaga kesehatan, berolahraga teratur, berpuasa Senin-Kamis, dan rutin menunaikan umrah.

Satu momen di kelas menjadi bukti nyata integritas itu. Pak Idus pernah berjanji bahwa mahasiswa yang terlambat tidak boleh masuk. Suatu hari, beliaulah yang datang terlambat. Tanpa ragu, ia meminta maaf di hadapan seluruh mahasiswa dan mengakui kesalahannya — sebuah tindakan yang jarang dilakukan oleh seorang dosen.

Di luar kenangannya sebagai pribadi, Pak Idus juga meninggalkan warisan intelektual yang signifikan. Ia dikenal sebagai penulis produktif sekaligus pemburu buku yang gigih, dengan karya-karya awal di bidang sosiologi dan sosiologi politik yang memuat warna ideologis khasnya.

Yang menarik dan mungkin mengharukan adalah catatan yang selalu tertulis di buku-buku miliknya sejak muda: "Aku harus jadi Menteri." Bukan sekadar ambisi, melainkan bentuk motivasi diri yang ia praktikkan. Ia tidak hanya mendorong murid-muridnya untuk bermimpi besar; ia juga menuntut hal yang sama dari dirinya sendiri. (SM)

Kembali