Naskah Ceramah Tertinggal, Ilmu Tetap Mengalir Mengenang Alm. Prof. A. Chaedar Alwasilah, Guru yang Idenya Tak Pernah Habis

Bandung, 15 Agustus 2026-Di kalangan mahasiswa dan koleganya di lingkungan akademik Bandung, nama Alm. Prof. A. Chaedar Alwasilah, Ph.D., M.A. dikenang bukan hanya sebagai seorang guru besar, melainkan juga sebagai penulis produktif dan pembimbing yang menaruh perhatian besar pada kemanfaatan ilmu bagi orang banyak. Kisah tentang perjalanan hidup dan karakternya diceritakan kembali oleh Prof. Bachrudin Musthafa, M.A., Ph.D., mantan mahasiswanya yang kemudian menjadi kolega dekatnya di dunia akademik, dalam sebuah wawancara sejarah lisan.

Kesan pertama terhadap sosok Prof. Chaedar, menurut narasumber, adalah seseorang yang kreatif dan sedikit nyeleneh, namun jelas sangat pintar dan insightful. Rasa penasaran itulah yang mendorong narasumber muda, saat itu masih mahasiswa S1 untuk bertanya-tanya dari mana sumber kepintaran gurunya berasal.

Dari Prof. Chaedar pula, narasumber pertama kali mengenal disiplin ilmu penerjemahan secara sistematis. Sebelumnya, penerjemahan hanya dilakukan secara intuitif. Prof. Chaedar mengajarkan bahwa jika bahasa sumber (Inggris) menggunakan standar baku, maka hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia pun harus mengikuti standar yang sama. Sebagai dosen muda, ia bahkan mengajarkan pronunciation practice dengan transkripsi fonetik, agar pengucapan bahasa Inggris mahasiswanya tidak lagi kental logat daerah. Kebiasaan menulis Prof. Chaedar tumbuh subur sejak masa mudanya. Ia aktif menulis di harian Pikiran Rakyat, mengolah pengalaman dan bacaannya menjadi tulisan yang bermanfaat bagi khalayak luas. Salah satu karyanya yang dikenang adalah buku serial Kaji Ulang Kata Kerja dalam Bahasa Inggris, yang lahir dari pengamatannya langsung terhadap kebutuhan mahasiswa, meski buku sejenis sudah banyak beredar.

"Perspektif beliau selalu bagaimana menjadi orang yang bermanfaat bagi mahasiswanya," kenang narasumber. Prinsip itu pula yang melahirkan karya lain seperti Translation Studies, yang menekankan pentingnya kesetaraan standar bahasa dalam proses penerjemahan. Perjalanan narasumber sendiri sempat membawanya jauh dari Prof. Chaedar. Setelah lulus, ia direkrut bekerja di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) di Jakarta, terlibat dalam proyek yang dipimpin Prof. Raka Joni untuk pengembangan IKIP-IKIP se-Indonesia. Ia bahkan sempat bertugas berkeliling kampus-kampus di Amerika dan Australia untuk meninjau persyaratan pengiriman calon dosen ke luar negeri.

Sepulang dari Amerika, karier Prof. Chaedar melesat cepat dari Wakil Dekan I hingga akhirnya menjadi profesor muda dan pernah menjabat Wakil Rektor. Namun jabatan struktural tidak pernah mengubah kebiasaannya membaca, menulis, dan berdiskusi bersama mahasiswa. Salah satu kisah yang diingat narasumber adalah saat Prof. Chaedar memimpin delegasi kampus ke Afrika. Alih-alih mendominasi pembicaraan, ia justru mendorong rekan-rekannya untuk mempersiapkan pertanyaan dalam bahasa Inggris yang baik sebelum bertemu tuan rumah. Sebuah sikap kepemimpinan yang menurut narasumber jarang ditemui. Dalam berbagai forum diskusi, Prof. Chaedar dikenal kerap tampil di tengah perbedaan pandangan yang tajam, namun tidak pernah galak atau menyerang lawan bicaranya. Ia selalu membuka ruang dialog dengan pendekatan yang membuat lawan diskusinya ikut menjadi lebih pintar. sikap yang oleh narasumber dinilai selaras dengan semangat hadis bahwa diskusi antarsesama adalah ladang hikmah, bukan ajang mencari kemenangan.

Bagi Prof. Chaedar, pendidikan bahasa harus fungsional bukan sekadar dihafal dan diulang tanpa makna. Sebagai pembimbing, ia menekankan pentingnya fokus mendalam pada satu persoalan dan menolak generalisasi dalam membimbing mahasiswa, karena menurutnya setiap kasus bersifat unik. Salah satu metafora favoritnya untuk menggambarkan proses menulis adalah kulkas, seseorang harus mengisi kulkas dengan banyak bahan terlebih dahulu, baru bisa menentukan apa yang hendak dimasak. Begitu pula menulis, harus banyak membaca dan mengumpulkan bahan sebelum menentukan apa yang akan dituliskan. Bahkan di masa-masa ketika kesehatannya mulai menurun dan harus menjalani cuci darah rutin, Prof. Chaedar masih memikirkan rencana studi lanjut serta terus mencari cara agar pendidikan di Indonesia lebih berdaya guna. Gagasan yang kemudian melahirkan pemikirannya tentang revitalisasi pendidikan.

Di balik kesan serius dan berwibawa, menurut istrinya, Prof. Chaedar sebenarnya memiliki selera humor tinggi dan dikenal sebagai salah satu yang paling jago melucu di antara rekan-rekannya. Sisi personal yang melengkapi sosoknya sebagai akademisi, penulis, sekaligus pribadi yang rendah hati dan selalu terbuka terhadap tafsiran orang lain atas karyanya. (SM)

Kembali