BANDUNG, 26 Oktober 2026– Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., dikenal sebagai pemimpin yang lapang hati, humanis, dan inklusif. Penilaian itu disampaikan Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., yang telah mengenalnya lebih dari dua dekade.
Prof. Wawan mulai berkuliah di UPI pada 1991, sementara Prof. Dadang telah berkarier di kampus itu sejak 1988. Keakraban mereka terjalin pada 2000, ketika Prof. Wawan menjadi dosen Pendidikan Bahasa Inggris dan Prof. Dadang menjabat Pembantu Dekan I bidang akademik. “Beliau sering datang bertandang, lalu kami mengobrol dan bergurau,” tuturnya.
Diminta menggambarkan Prof. Dadang dalam tiga kata, Prof. Wawan memilih lapang hati, populer, serta santai tetapi serius. Menurutnya, Prof. Dadang tidak menyimpan dendam, bahkan kepada pihak yang pernah membencinya. “Sampai sekarang belum pernah ada ucapan beliau yang menyakiti hati,” ujarnya. Sikap santainya pun tidak berarti abai. Ia tetap fokus mencari solusi, dan bila suatu keputusan berpotensi menyakiti sebagian pihak, ia memilih tidak mengambilnya.
Sebagai pemimpin, Prof. Dadang tegas di podium, tetapi setara dan cair di luar podium. Dalam bekerja sama, ia mengedepankan kepakaran, bukan asal institusi.
Selama memimpin Badan Bahasa, ia menghadapi persoalan kompleks, mulai dari internasionalisasi bahasa Indonesia hingga kesiapan guru. Kontribusi terbesarnya adalah penguatan posisi bahasa nasional, antara lain lewat upaya mengindonesiakan nama-nama di ruang publik yang kini menjadi fondasi kebijakan bahasa nasional.
Di luar jabatan, Prof. Dadang piawai bermain gitar dan gemar memancing. Gurauannya khas Sunda, tanpa sekat antara senior dan junior.
Bagi Prof. Wawan, warisan terbesar Prof. Dadang adalah strategi kepemimpinan inklusif, yaitu mengejar target dengan berpijak pada kebijakan dan kondisi nyata, serta merintis praktik terbaik yang bisa diteruskan penerusnya. “Inklusif dan kolegial, itulah yang akan saya terapkan,” katanya. (SM)