Dari Arsip Menjadi Diorama sebagai Inovasi Edukasi dalam Memperkenalkan Sejarah dan Memori Perguruan Tinggi
Rak-rak arsip di perguruan tinggi menyimpan jejak panjang sebuah lembaga, mulai dari surat keputusan pendirian, foto kegiatan akademik, hingga catatan pengabdian masyarakat. Sayangnya, dokumen tersebut kerap berhenti pada fungsi administratif dan jarang dikenal oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Diorama hadir sebagai jawaban atas persoalan ini, mengubah lembar arsip yang statis menjadi ruang visual yang dapat dialami, sehingga sejarah dan memori kampus tersampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah diingat.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, arsip merupakan rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sebagian arsip perguruan tinggi kemudian ditetapkan sebagai arsip statis karena nilai kesejarahannya, dan pada titik inilah arsip berfungsi sebagai memori institusi. Caniago (2018) menegaskan bahwa arsip perguruan tinggi memiliki fungsi historis sekaligus menjadi memori kolektif sebuah lembaga, sehingga pengelolaannya tidak boleh berhenti pada penyimpanan semata.
Persoalan muncul ketika arsip hanya diakses kalangan terbatas, seperti peneliti atau pejabat struktural yang memerlukannya untuk kepentingan administrasi. Mahasiswa baru, alumni, bahkan sivitas akademika sendiri sering kali tidak mengetahui bagaimana kampus mereka terbentuk, tokoh yang berperan di baliknya, atau peristiwa penting yang membentuk identitas lembaga. Kesenjangan ini menuntut media penyampaian yang lebih hidup daripada sekadar dokumen tertulis atau pameran foto statis.
Diorama menawarkan pendekatan itu. Sebagai media tiga dimensi yang merekonstruksi suatu peristiwa dalam skala ruang, diorama membantu pengunjung membayangkan konteks waktu, tempat, dan suasana secara langsung. Enti et al. (2010) menjelaskan bahwa seni diorama merupakan media potensial untuk edukasi museum karena mampu menghadirkan narasi visual yang menggugah imajinasi pengunjung terhadap peristiwa masa lalu. Birsyada et al. (2022) turut membuktikan bahwa pembelajaran sejarah berbasis diorama museum di sekolah mampu meningkatkan pemahaman siswa dibandingkan metode ceramah konvensional.
Proses mengubah arsip menjadi diorama bermula dari penelusuran dokumen yang relevan, misalnya foto peresmian gedung, korespondensi pendirian program studi, atau catatan peristiwa penting kampus. Arsiparis dan kurator kemudian menyaring informasi tersebut menjadi narasi utuh yang layak divisualisasikan. Tahap berikutnya adalah rekonstruksi visual, tempat detail arsitektur, pakaian, dan suasana masa lampau disusun berdasarkan bukti dokumenter agar keakuratan sejarah tetap terjaga, bukan sekadar hasil rekaan artistik.
Kolaborasi lintas keahlian menjadi kunci keberhasilan diorama arsip. Arsiparis memastikan validitas sumber, sejarawan memverifikasi konteks peristiwa, sementara desainer dan seniman menerjemahkan data menjadi bentuk visual yang menarik. Kerja sama semacam ini sejalan dengan semangat Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kearsipan di Lingkungan Perguruan Tinggi, yang menempatkan arsip sebagai aset publik yang perlu dikelola sekaligus dimanfaatkan, bukan hanya disimpan.
Manfaat diorama arsip terasa langsung pada pengalaman pengunjung. Mahasiswa baru dapat mengenal asal-usul kampusnya melalui ruang pamer yang interaktif, alumni memperoleh kembali kenangan atas masa studi mereka, dan masyarakat umum memperoleh gambaran kontribusi perguruan tinggi terhadap perkembangan pendidikan di daerahnya. Pendekatan ini juga membuka peluang wisata edukasi kampus, sebagaimana museum-museum sejarah telah lebih dahulu memanfaatkan diorama untuk menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.
Tantangan penerapan diorama arsip tetap ada, terutama pada aspek pendanaan, ketersediaan tenaga ahli kuratorial, dan ruang pamer yang memadai. Selain itu, akurasi historis harus dijaga ketat agar diorama tidak menyimpang dari fakta arsip asli. Kolaborasi antara unit kearsipan, fakultas seni rupa atau desain, serta pihak eksternal seperti museum dan komunitas sejarah dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan sumber daya tersebut.
Transformasi arsip menjadi diorama menunjukkan bahwa dokumen lama tidak harus berhenti sebagai berkas administratif. Dengan sentuhan kuratorial yang tepat, arsip dapat berbicara kepada generasi baru, menghidupkan kembali memori kolektif perguruan tinggi, dan menjadikan sejarah kampus sebagai pengalaman yang dapat dilihat, dirasakan, dan dibanggakan bersama.
Referensi
Arsip Nasional Republik Indonesia. (2011). Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kearsipan di Lingkungan Perguruan Tinggi.
Birsyada, M. I., Gularso, D., & Fairuzabadi, M. (2022). Strategi pengembangan pembelajaran sejarah masa pendudukan Jepang di Indonesia berbasis diorama museum di sekolah. Diakronika, 22(1). https://doi.org/10.24036/diakronika/vol22-iss1/272
Caniago, M. F. (2018). Institutional memory, potret arsip perguruan tinggi. Padang Ekspres.
Enti, M., Brako-Hiapa, G., Adu-Agyem, J., Osei-Poku, P., & Steiner, R. (2010). Seni diorama, media potensial untuk edukasi museum. Journal of Science and Technology (Ghana), 30(2). https://doi.org/10.4314/just.v30i2.60539
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.